Connection

Oleh: Berny Gomulya

Eventually everything connects – people, ideas, objects. The quality of the connections is the key to quality person.
~ Charles Eames, Pengusaha Amerika

Saya baru saja membaca tulisan Jessi Hempel di majalah Fortune, Maret 2009 yang berjudul: How facebook is taking over our lives. Begini bunyi kalimat pembukanya, “Obama memanfaatkan facebook (fb) sehingga dia terpilih menjadi Presiden Amerika. Perusahaan Dell merekrut karyawan baru melalui fb. Sistem operasi baru Microsoft meminjam dari fb.”

 Bukan hanya perusahaan luar, beberapa pelaku usaha lokal mulai memanfaatkan jejaring fb untuk menawarkan produk kepada anggota fb yang sesuai dengan target pasar mereka. Tidak diragukan lagi, dunia benar-benar sedang dilanda demam fb. “Dunia tersihir facebook,” begitu tulis Kompas 17 Maret 2009.facebook_members1

 Menurut data resmi fb, jumlah pengguna fb per Januari 2009 adalah 150 juta, dan per 12 Februari 2009 sudah mencapai 175 juta (Wow…angka yang fantastis!). Yang luar biasanya lagi, fb mencapai jumlah member itu hanya dalam waktu 4 tahun (2005-2009). Waktu yang relatif sangat singkat untuk mencapai angka pengguna sefantastis itu. Tidak percaya? Coba bandingkan dengan pengguna teknologi lainnya: iPod mencapai angka pengguna 150 juta dalam waktu 7 tahun (2001-2008), telepon genggam membutuhkan waktu 14 tahun (1983-1997), televisi dalam waktu 38 tahun (1928-1966), bahkan telepon rumah mencapainya dalam waktu 89 tahun (1876-1965).

 Apa arti semua ini? Setiap orang membutuhkan connection karena kita adalah manusia, bukan mesin. Sebagai manusia, kita memiliki emosi, harapan, nurani, mimpi, keinginan, dan kebutuhan. Manusia butuh dihargai, diperhatikan, dipuji, diapresiasi, serta merasa memiliki dan dimiliki. Itu sebabnya, ketika kita berada dalam suatu lingkungan yang saling terkoneksi, maka kita merasa lebih senang, lebih bahagia, lebih ceria, lebih optimis, dan lebih bergairah.

 Michael Lee Stallard dalam bukunya Connection Culture berkata, “Connection adalah kekuatan luar biasa yang menciptakan adanya kelekatan positif antar manusia berdasarkan pada faktor rasional dan faktor emosional. Connection berkontribusi memunculkan yang terbaik dari orang, memotivasi orang, menimbulkan rasa saling percaya, bahkan mampu membuat orang bertahan menghadapi cobaan hidup.race_to_mass_market2

 Dr Erward Hallowed, seorang pakar psikiatri dari Harvard Medical School, menemukan bahwa kebanyakan eksekutif di Amerika mengalami krisis dengan orang lain yang membuat mereka kesepian, terisolasi, dan merasa sendirian. Krisis ini dinamakannya deprived of connection (krisis koneksi). Ia juga mengamati bahwa organisasi yang mengalami deprived of connection di antara para karyawannya membawa dampak berupa tidak adanya kepuasan bekerja, saling menghormati, dan kepercayaan.

Penelitian lain menunjukkan bahwa adanya connection antar sesama manusia akan memperbaiki kesehatan manusia baik mental maupun fisik, antara lain:

Bayi yang merasakan kehangatan orang tuanya karena sering dibelai, dipeluk, dan dicium terbukti lebih sehat.
- Anak remaja yang lebih merasa connected dengan teman-temannya terbukti lebih mudah bergaul dan menyesuaikan diri.
- Pasien yang mendapatkan dukungan dari orang-orang disekitarnya terbukti mengalami kesembuhan lebih cepat.
- Orang yang lebih banyak mengalami human contact terbukti lebih mampu menyelesaikan masalah dan lebih kreatif.
- Orang yang memiliki lebih banyak social networking terbukti lebih tidak mudah stress dan depresi.

Tak bisa dipungkiri kehadiran situs pertemanan seperti friendster, dan fb telah menghiasi kehidupan sosial kita. Namun, pertanyaannya sekarang adalah apakah fb bisa menggantikan human connection secara fisik. Hasil penelitian pakar dari Inggris, Dr Aric Sigman, dari British Pyschological Society seperti yang dipublikasikan oleh jurnal Biologist edisi Februari 2009, Jurnal terbitan The Institute of Biology, dengan judul: Well connected? The Biological Implications of social networking, mengatakan bahwa kebiasaan bergaul melalui situs pertemanan berpotensi mengurangi connection antar manusia di kehidupan nyata. Jika kemudian, para pencinta jaringan pertemanan itu sampai mencandu sehingga mereka lebih memilih bersosialisasi lewat dunia maya dari pada bersosialisasi di dunia nyata, maka dampaknya bisa buruk bagi kesehatan. Hal itu bisa berpengaruh pada sisi biologis manusia, antara lain: mengubah alur kerja gen, menghambat respon sistem imun, tingkat hormon, dan fungsi arteri serta mempengaruhi kondisi mental. Buntutnya, hal tersebut sangat berpotensi meningkatkan resiko gangguan kesehatan seperti penyakit jantung, kanker, stroke, dan kelainan jiwa.

Sigman sudah lama mengamati gejala sosial seperti itu, khususnya di Inggris yang menjadi lokasi penelitiannya. Dari penelitiannya sejak 1987, interaksi face to face kian menurun. Terutama sejak media elektronik maju pesat. E-mail dan sms lebih disukai sebagai alat interaksi ketimbang bertemu muka. ”Perubahan mendasar yang kini mendera warga Inggris adalah makin berkurangnya jumlah menit per hari untuk berinteraksi dengan manusia lain,” kata Sigman. ”Pasti ada perbedaan antara kehadiran nyata dan penampakan secara virtual,” lanjut Sigman.

facebook_difference

Secara evolusi, dunia elektronik telah mengubah interaksi manusia. Yang dulunya membutuhkan pertemuan fisik yang hangat menjadi pertemuan virtual yang dingin. Dari hasil penelitian Sigman diatas, hal utama yang harus diwaspadai oleh para pemimpin adalah jangan sampai kehadiran media-media elektronik justru mengurangi makna penting connection itu sendiri. Jangan sampai keindahan bersosialisasi, kemahiran berkomunikasi, dan kemampuan memahami bahasa tubuh para pemimpin makin tergerus oleh adanya jaringan pertemanan itu. Jika situs pertemanan seperti fb tidak digunakan secara bijak, maka bukan tidak mungkin pemimpin kehilangan keintiman connection dengan para pengikutnya. Seorang penyair Amerika, Joseph Brodsky menasehati, ”Cherish your human connectionsc physically – your relationships with friends and family.

Between understanding and faith immediate connections must subsist.
Marquis de Sade, Penulis Perancis

I have spent my career trying to help people without connections understand what’s going on so that they have a chance of getting a fair shake from the connected and the powerful.
Allan Sloan, Penulis buku The Best Business Stories of the Year

Nonsense and beauty have close connections.
E. M. Forster, Penulis Inggris

Advertisement
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • gusthy  On March 19, 2009 at 4:25 am

    we are better than me….benarkah pak berny ???

  • Berny Gomulya  On March 19, 2009 at 7:50 am

    Bener Banget…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.